Pendahuluan
Net metering (atau ekspor-impor/EXIM) adalah mekanisme di mana kelebihan listrik dari PLTS atap dikirim ke jaringan PLN dan dikompensasikan ke tagihan listrik. Skema ini membuat investasi PLTS semakin menguntungkan karena pemilik rumah tidak perlu baterai — grid PLN berfungsi sebagai "baterari virtual".
Cara Kerja Net Metering
Sistem PLTS on-grid dengan net metering bekerja sederhana:
- Panel surya menghasilkan listrik DC
- Inverter mengubah ke AC dan menyuplai beban rumah
- Kelebihan daya otomatis dikirim ke jaringan PLN
- Kekurangan daya (malam/mendung) otomatis diambil dari PLN
- Meter EXIM mencatat kWh yang dipakai dan diekspor secara terpisah
Ilustrasi Aliran Energi
Jam 10:00 (produksi puncak)
Panel 5 kWp → Beban 2 kW → Ekspor 3 kW ke PLN
Jam 18:00 (malam hari)
Panel 0 kW → Beban 3 kW → Impor 3 kW dari PLN
Regulasi Net Metering Terbaru 2026
Berdasarkan Peraturan Menteri ESDM No. 26/2021 dan aturan turunannya:
| Aspek | Ketentuan |
|---|---|
| Kapasitas maksimal | 100% dari daya tersambung PLN |
| Kompensasi ekspor | 65% dari tarif listrik per kWh |
| Contoh kompensasi | R1-1.300 VA: Rp 1.444/kWh × 65% = Rp 939/kWh |
| Masa berlaku | Sampai 2026 (masa transisi ke 100% nilai) |
| Sistem | 1 phase (rumah) atau 3 phase (industri) |
| Biaya | Tidak ada biaya tambahan dari PLN |
Syarat Pemasangan Net Metering
- Memiliki SLO (Sertifikat Layak Operasi) dari ESDM
- Daya PLN minimal 1.300 VA (1 phase)
- Mengajukan permohonan ke PLN via Aplikasi PLN Mobile atau ULT setempat
- Menggunakan meter EXIM (disediakan gratis oleh PLN)
- Kapasitas PLTS tidak melebihi daya tersambung PLN
Simulasi Penghematan dengan Net Metering
Skenario: Rumah Daya 2.200 VA, PLTS 3.300 Wp
| Parameter | Nilai |
|---|---|
| Kapasitas PLTS | 3.300 Wp (6 panel 550 Wp) |
| Produksi per bulan | 400 kWh |
| Pemakaian siang hari (60%) | 240 kWh langsung pakai |
| Ekspor ke grid (40%) | 160 kWh × 65% × Rp 1.444 = Rp 150.176 |
| Tagihan listrik tanpa PLTS | 400 kWh × Rp 1.444 = Rp 577.600 |
| Tagihan dengan PLTS | (400 - 240) × Rp 1.444 - Rp 150.176 = Rp 80.864 |
| Penghematan | Rp 496.736/bulan (86%) |
Skenario: Industri Daya 200 kVA, PLTS 100 kWp
| Parameter | Nilai |
|---|---|
| Kapasitas PLTS | 100 kWp |
| Produksi per bulan | 13.500 kWh |
| Pemakaian siang (50%) | 6.750 kWh langsung pakai |
| Ekspor ke grid (50%) | 6.750 kWh × 65% × Rp 1.100 = Rp 4.826.250 |
| Hemat per bulan | Rp 11,4 juta |
Perbedaan Net Metering vs Net Billing
| Aspek | Net Metering (Indonesia) | Net Billing (negara lain) |
|---|---|---|
| Kompensasi | 65% dari tarif retail | Harga wholesale/bulk |
| Mekanisme | kWh dikurangkan | Rupiah dikompensasi |
| Keuntungan pemilik | Lebih tinggi | Lebih rendah |
| Berlaku di | Indonesia, Filipina | Jerman, Australia |
Kesimpulan
Net metering adalah skema yang membuat PLTS atap rumah sangat menguntungkan. Dengan kompensasi 65% dari tarif listrik, penghematan bulanan bisa mencapai 85% tagihan. Tanpa baterai, investasi PLTS dengan net metering memiliki ROI lebih cepat daripada sistem hybrid atau off-grid. Pelajari juga biaya PLTS rumah untuk simulasi anggaran lengkap.
FAQ
Apa itu net metering PLTS?
Net metering adalah skema di mana kelebihan listrik dari PLTS atap diekspor ke jaringan PLN dan dikompensasikan ke tagihan listrik.
Berapa kompensasi net metering?
Kompensasi sebesar 65% dari tarif listrik per kWh. Untuk rumah R1-1.300 VA, kompensasinya Rp 939/kWh.
Apakah net metering memerlukan baterai?
Tidak. Net metering bekerja dengan sistem on-grid tanpa baterai. Grid PLN berfungsi sebagai penyimpanan virtual.
Berapa lama proses pengajuan net metering?
Proses pengajuan SLO ESDM + permohonan EXIM ke PLN biasanya 2–4 minggu.
Apa bedanya net metering dan sistem off-grid?
Net metering terhubung ke PLN dan bisa kompensasi kelebihan listrik. Off-grid mandiri penuh dengan baterai, cocok untuk lokasi tanpa PLN.